Wednesday, 6 January 2010

Prihatin Waduk dan Bengawan Solo

SAAT menikmati cuti akhir tahun, kemarin, saya meluangkan waktu mengelilingi sebagian area waduk Gajah Mungkur dan meninjau Bengawan Solo (Kali Gede, sebutan di masa kecil). Komentar dan kesimpulan saya singkat saja: prihatin !
Pendangkalan waduk kebanggaan Wong Nogiri saya kira sudah sulit ditoleransi lagi. Saya lihat ada penurunan elevasi yang amat tajam, mungkin akibat kemarau panjang.
Pendangkalan juga terjadi di aliran Bengawan Solo. Tempat mandi di masa kecil saya itu tinggal menyisakan satu alur tak lebih dari 15 meter.
Separo lebih tertutup lumpur yang secara ''kreatif'' dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Di bawah jembatan Pokoh (Juranggempal) saya lihat juga demikian.
Saya tidak jadi membanggakan sungai atau kali itu kepada anak-anak saya. Bahwa, saat kemarau dulu airnya jernih, asyik untuk mandi-mandi. Pada musim hujan, lebar alirannya 50 meter lebih.
Untuk mengubah keadaan yang memprihatinkan itu, butuh waktu panjang serta perubahan radikal kebiasaan dan budaya warga Nogiri, terutama yang dekat dan berhubungan langsung atau tak langsung dengan waduk dan aliran Bengawan Solo !
Iso ora yo ....... ???????!!

3 comments:

kisut65 said...

bener mas, aku tgl 28 Desember esuk ngajak ponakan nag pintu ait/bendungan, wis dadi sawah maneh. banyne asat , ngenes tenan

siswadi kasep said...

mungkin satu satunya yang masih tersisa dan masih bisa dibanggakan kepada putra putri kita sampai saat ini, yaitu IKATAN TALI SILATURAHIM KELUARGA ALUMNI '81 smpn 1 wonogiri yang semakin erat terpatri dalam hati dan sanubari kita mas.

bener ngga' yo???
salam 'tuk semua keluarga alumni '81

Beno said...

Bener, Mas Sis.