Thursday, 3 June 2010

RSBI Picu Kesenjangan Sosial"

RSBI Picu Kesenjangan Sosial

Kebijakan pemerintah tentang berdirinya sejumlah sekolah bertitel RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) perlu ditinjau ulang. Keberadaan RSBI ditengarai bisa memicu kesenjangan sosial.
Demikian disampaikan Ketua Persatuan Guru dan Karyawan Swasta Indonesi, Jawa Tengah Muh. Zen ADV. "Keberadaan sekolah semacam ini justru menimbulkan kesenjangan antara masyarakat yang mampu dan kurang mampu secara ekonomi. Ini perlu ditinjau ulang," katanya.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah ini mengatakan, untuk bisa masuk sekolah di RSBI, orang tua calon murid harus mengeluarkan biaya tinggi. Bahkan tak jarang terjadi tawar menawar antara orang tua dengan sekolah. Hal ini yang menyebabkan hanya siswa yang mampu secara ekonomi yang dapat bersekolah. Dan patut disayangkan ternyata banyak sekolah justru berloma-lomba untuk mengubah statusnya dari sekolah umum menjadi rintisan sekolh bertaraf internasional.
"Mernurut saya RSBI bukan rintisan sekolah bertaraf internasional, tapi rintisan sekolah bertarif internasional. Apalagi sejauh ini juga tidak ada standar yang jelas tentang keberadaan sekolah semacam ini," ucap politisi dari PKB ini.
Agar tidak terjadi kesenjangan di dunia pendidikan, menurutnya, maka kberadaan rintisan sekolah bertaraf internasional ini harus ditinjau ulang. Dan langkah pertama yang dilakukan adalah merevisi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, persisnya pasal 50.
Tanpa standarisasi yang jelas, justru sekolah itu menjadi sekolah tanpa standar," katanya.
Sekretaris Komisi E DPRD Jawa Tengah Mahmud Mahfudz mengatakan, keberadaan RSBI memang harus dicermati. Hal yang paling penting dicermati adalah pengakomodasian siswa kurang mampu untuk dapat menempuh pendidikan. Dalam aturan dijelaskan bahwa RSBI harus mengakomodasi sekita 10 persen siswa kurang mampu, dari keseluruhan murid yang diterima," katanya.
( Meteor, Kamis 3 Juni 2010, hal 2 )

* Maaf teman dan temin sebangsa tanah dan sebangsa air, saya hanya mengutip/menyalin tulisan ini dari Meteor terbitan Kamis tgl. 3 Juni 2010, hal 2. Dengan harapan untuk bahan perbandingan debat argument tentang pendidikan di Blok kita ini.

8 comments:

Harjono "Kingkong" said...

RSBI Rintisan Sekolah BER"TARIF" Internasional

Setyo said...

Betul... betul.... betul... Mas Kong.
Piye kabare mas...?
Semoga hapy hapy selalu

Setyo said...
This comment has been removed by the author.
Harjono "Kingkong" said...

Apik Pak Cip kahanane, sehat walafiat, segar bugar, tetap semangat 45 umure lho....

Kenang said...

Sampyen ki, jan. Happy-happy yo. Ketoke kok tambah lemu. Opo wis suwe ora dadi kiper kok saiki ganti profesi musikus.

Nasih said...

the meaning of Harjo is Makmur ...

mujtahid said...

Kingkong ki ora ganti profesi Nang .. delok-en sedelo maneh rak siap dadi maestro keroncong ngganti suwargi mbah Gesang.

Harjono "Kingkong" said...

Yah...happy.... happy.... puppy....Nang...pensiun dadi kiper Tunggal Dara terakhir tahun 1994, yah... koyo omongane Tahid nggo ngilangi stress saiki banting stir dadi pengamen.....he..he...

@Nasih : durung makmur mung ndableg wae....he..he...dadi ketok lemoe