Thursday, 7 October 2010

Kasimo Plan

KASIMO PLAN
Sejak kemerdekaan Indonesia telah mengalami berbagai macam krisis, baik politik, ekonomi atau pangan. Terakhir tahun 1997-1998 kita mengalami krisis ekonomi diikuti krisis politik dan pangan yang dahsyat yang berujung pada pergantian kekuasaan orde baru yang telah bertahan selama 30 tahun. Waktu itu terjadi penjarahan oleh rakyat dimana-mana dan kita terpaksa harus import beras sampai sampai + 4 juta ton untuk memenuhi ketersediaan pangan dan stabilisasi harga untuk menekan harga yang naik luar biasa. Alhamdulillah sesulit apapun krisis yang pernah kita lami kita berhasil keluar dari krisis tersebut dan sampai saat ini kita masih bisa mempertahankan keutuhan sebagai bangsa.
Kunci untuk menyelesaian krisis tersebut adalah visi yang tepat, keyakinan yang kuat dan program yang konseptual, praktis dan realistis. Seperti pada awal kemerdekaan, karena dorongan untuk menjadi bangsa yang kokoh dan mandiri, maka para pemimpin berupaya keras untuk memenuhi segala kelengkapan pemerintahan, menggerakkan perekonomian dan memenuhi segala kebutuhan rakyat. Kebutuhan rakyat yang mendesak ditambah kas Negara yang kosong memerlukan pemecahan ekonomi untuk meningkatkan produksi dan distribusi bahan makanan, masalah sandang dan penyelesaian asset Negara yang masih dikuasai/milik asing terutama perkebunan.
Salah satu untuk mengatasi masalah pangan Menteri Urusan Bahan Makanan, IJ Kasimo mengeluarkan kebijakan yang terkenal dengan Kasimo Plan. Program ini berupa Rencana Produksi Tiga tahun (1948-1950) mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Inti dari Kasimo Plan adalah untuk meningkatkan kehidupan rakyat dengan meningkatkan produksi bahan pangan. Rencana Kasimo ini adalah :

a. Menanami tanah kosong (tidak terurus) di Sumatera Timur seluas 281.277 HA
b. Melakukan intensifikasi di Jawa dengan memperbanyak penanaman bibit unggul
c. Pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi produksi pangan.
d. Di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit
e. Transmigrasi bagi 20 juta penduduk Pulau Jawa dipindahkan ke Sumatera dalam jangka waktu 10-15 tahun

Pencegahan tersebut dimaksudkan untuk memperbanyak hewan ternak sehingga cadangan pangan pun meningkat. Benar-benar praktis, sederhana namun brilian
Gagasan yang brilian itu dilahirkan oleh I.J Kasimo. I.J Kasimo (1900-1986) selain menjadi Menteri ketika Indonesia merdeka dia adalah salah satu seorang pelopor kemerdekaan Indonesia. IJ Kasimo dilahirkan di Yogyakarta, kemudian ia setelah dewasa menjadi guru pertanian di Tegal dan Surakarta.
Pada waktu zaman pergerakan nasional Kasimo juga aktif berpolitik. Beliau adalah salah seorang pendiri Partai Katolik dan menjadi Ketuanya.
Awal kemerdekaan ia pernah duduk sebagai Menteri Muda Kemakmuran dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, Menteri Persediaan Makanan Rakyat dalam Kabinet Hatta I dan Hatta II. Dalam kabinet peralihan atau Kabinet Soesanto Tirtoprodjo ia juga menjabat sebagai menteri.
Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Kasimo duduk sebagai wakil Republik Indonesia dan kemudian setelah RIS dilebur ia menjadi anggota DPR. Dalam Kabinet Burhanuddin Harahap (Masyumi) ia menjabat sebagai Menteri Perekonomian.
Sebagai politisi produk pergerakan kemerdekaan sebagaimana tokoh politik sezamannya beliau hidup sederhana, menghargai perbedaan dan rendah hati. Meskipun berbeda ideologi dan keyakinan politik beliau bersahabat dekat tokoh-tokoh seperti Bung Karno, Bung Hatta bahkan dengan Muhammad Natsir (tokoh Masyumi) beliau bersahabat sangat erat. Bahkan dalam hubungan pribadi mereka sering saling berkunjung ke rumah.
Belajar dari pengalaman para pendahulu tersebut kiranya kita perlu meneladani pemikiran dan sikapnya. Ditengah situasi yang sulit perlu memiliki visi agar tidak kehilangan arah, keyakinan yang kuat dan program-program kongkrit yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Bukan beriklan atau berdebat mengenai angka produksi yang katanya surplus sampai + 5 juta ton seperti sekarang ini yang ujungnya adalah sikap ego dan membanggakan diri tentang keberhasilan yang belum tentu benar.
Pertanyaannya sederhana kalau produksi berhasil kenapa harga beras masih fluktuatif bahkan cenderung tinggi. Itu artinya stok dimasyarakat sudah menipis akibat kegagalan panen karena hama atau musim yang ekstrim Diatas kertas iklan mengenai angka produksi tersebut menyenangkan, namun dibawah kertas kadang menyesatkan. Krisis beras tahun 1972 terjadi salah satunya karena terlalu percaya pada angka. Boleh angka surplus kita publikasi sebatas membangun optimisme bahwa kita sebenarnya mampu asalkan kita mau.
Seandainya kelebihan produksi itu benar Alhamdulillah, namun kita tetap perlu waspada karena sedia payung sebelum hujan lebih baik dari pada sudah kehujanan baru mencari payung (Djoni Nur Asahari/dari berbagai sumber)

7 comments:

Nasih said...

gerakkan saja "Satu orang, satu sapi". saya yakin kita akan kecukupan pupuk dan pangan utamanya daging dan susu segar ...

Setyo said...

Atau Satu orang, satu mesin traktor, satu hektar sawah, satu rumah tempat tinggal layak huni type 45, satu Truk untuk angkut2 hasil panen, terus apa maneh yo.....?

siswadi kasep said...

assalamu' alaikum pakde Djoni .....
nuwun sewu, lha wong akhir tahun 2010 iki diperkirakan stock beras nasional gur kari 1,2 juta TON kok, mulakno pemerintah maw mengIMPOR beras sebesar 300 ribu ton.
jadi yo wajar yen regane beras ijik tetep LARANG.
lha wong beras DOLOG sing wis tengik tur campur tumo (KUTU) sing jenenge beras RASKIN neng pasar ki ijik tekan Rp. 5000 per kilone
dadi piye larang po murah yen ngono regane beras kuwi???

yusuf said...

Sori kalau saya agak beda pendapat.
Permasalahan harga komoditas pertanian utamanya beras yang dirasa tinggi akhir2 ini, disatu sisi saya sebenarnya mensyukuri, karena kapan lagi petani2 kita menikmati hasilya kalau harga tidak lumayan bagus.

mujtahid said...

Konsumsi wong Indonesia terhadap beras adalah yg tertinggi didunia. Pola pikir kalau hanya nasi yg "maregi" perlu diubah. Bener kata Nasih, konsumsi daging, susu, sayur, buah dsb perlu digalakkan sekaligus untuk meningkatkan "mutu isi kepala" .. ora mung "empuk-empuk mblenduk". Pengalamanku makan bersama dengan orang Cina, India, Jepang .. sambil ngobrol dikeluarkan aneka lauk dulu sampai mblenger, baru terakhir ditawari : masih mau nasi? .. (dg porsi hanya sekitar 5 sendok dalam mangkok kecil) .. wis cik wis wareg!

tas laptop said...

Harga beras tinggi, yang menikmati ya tetep pedagang .... bukan petani !

Supriyanto-Jambe said...

Boro boro mau ganti dg lauk atau sayuran, wong ada sing mangan nasi jagung, nasi gaplek wae wis di ributke oleh media. Se akan2 media menyatakan klo makanan yg baik dan layak hanya beras.Selain itu berarti miskin, lha klo cuma sayuran saja misalnya nanti diberitakan : Orang2 hanya makan .... dst shg sdh spt ternak. Lha kan repot.