Sunday, 19 December 2010

Danar, Jamasan Keris dan Perang Budaya Di Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Bupati Danar Rahmanto kini lagi sibuk.
Melunasi hutang-hutang dan janjinya.
Kegegeran pun terjadi.

Surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Globe (25/11/2010), telah menulis berita terkait keputusan mas bupati baru kita itu. Bahkan berita ini berhari-hari menjadi topik favorit pembacanya.

"Tunduk kepada tekanan organisasi berbasis Islam konservatif lokal, bupati baru Wonogiri di Jawa Tengah telah mencabut dukungan pemerintahannya sebagai penyedia dana dan hal lainnya bagi penyelenggaraan peristiwa budaya tradisional setempat."

Alasan Danar, ia melakukan hal itu sebagai wujud pelunasan hutang secara moral dan memenuhi kontrak politik yang ia sepakati dengan pelbagai organisasi Islam dan tiga partai politik, yaitu Partai Gerindra, PAN dan juga PPP.

"Saya hanya akan menghapus tiga penyelenggaraan peristiwa budaya dari anggaran pemerintah, tetapi tidak akan melarang warga Wonogiri yang akan menyelenggakannya dengan dana mereka sendiri," tegas Danar Rahmanto.

Tiga peristiwa budaya itu adalah Tradisi Jamasan Pusaka yang rutin diadakan setiap bulan Sura/Muharam di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Demikian pula acara tradisi seperti Larung Ageng di Pantai Sembukan dan Sedekah Bumi di Kahyangan, Tirtomoyo.

Jawa lagi bunuh diri. Seorang pembaca bernama "John Kramer" menulis pendapat yang sinis atas keputusan itu.

"Danar dan orang-orang dibelakangnya adalah mereka yang kacau dalam memahami mana yang bagian dari agama dan mana yang bagian dari adat istiadat suatu tradisi. Kami semua mampu melihatnya secara jernih. Mereka itu seharusnya juga mempromosikan Pancasila tetapi tanpa slogan 'Bhinneka Tunggal Ika' sejak sekarang, karena ini akan membingungkan orang dalam melaksanakan perintah 'satu agama sejati' mereka."

Pembaca lainnya "jeprince977" nimbrung berkomentar. Lebih galak. "Inilah tanda-tanda bahwa Indonesia mengalami pelemahan dan pembusukan dari dalam. Dan penyebab utamanya, sebagaimana orang melihat pelbagai bukti yang tersaji, adalah Islam radikal.

Siapa lagi yang mempromosikan kekerasan, pengrusakan, kebencian, dan terutama upaya mereka untuk menghancurkan keindahan khasanah budaya yang ada."

Muncul pendapat menarik, yang berupa kritikan tajam dan pedas kepada orang Jawa sendiri. Adalah "MoGei" yang menulis : "Sungguh menyedihkan melihat banyak dan banyak lagi orang Jawa yang nyingkur, membelakangi akar budaya mereka sendiri.

Secara pribadi saya tidak menyalahkan Islam dalam hal ini. Masalahnya adalah semakin banyak orang Jawa menelantarkan dan menolak identitas budaya mereka sendiri. Tentu saja selalu ada pengaruh dari luar, tetapi sisi internal, mentalitas (kebanggaan diri) akan selalu menentukan ketangguhan bangsa bersangkutan.

Apakah atas nama agama atau globalisasi, melalui cara kekerasan atau cara damai, orang-orang Jawa sekarang ini sedang membunuh warisan budaya mereka sendiri. Dalam pendapat saya, sebagian besar orang Jawa memang tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap budaya mereka sendiri."

Wonogiri bergolak. Keputusan Danar Rahmanto itu memicu gejolak. Mantan Kepala Dinas Pariwisata (Diparta) Wonogiri, H Mulyadi menilai prosesi jamasan pusaka sudah telanjur dikenal di luar negeri. Karenanya dia menyayangkan penghapusan tradisi budaya jamasan dan ruwatan tiap bulan Muharram atau Sura di Wonogiri.

Seperti dilaporkan oleh koran lokal Solopos, Mulyadi yang juga mantan Sekretaris Daerah itu mengaku kegiatan jamasan dan ruwatan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) telah dipromosikan ke lima negara, yakni Australia, Malaysia, Singapura, Thailand dan AS.

"Turis mancanegara tertarik soal budaya dan kegiatan jamasan atau ruwatan pusaka Mangkunegoro I di WGM telah kami usulkan sebagai event internasional," ujarnya.

Diskusi yang sempat membuat "hawa panas" di Wonogiri itu akhirnya memperoleh solusi. Acara itu akhirnya tetap akan dilangsungkan, hari ini. Minggu, 19 Desember 2010.

Tetapi sebagaimana diwartakan oleh situs Radio Komunitas Gunung Gandul, berbeda dengan saat Begug Poernomosidi masih menjabat dengan terjun sendiri memimpin kirab, kini bupati dan jajarannya hanya sebagai penonton di panggung kehormatan. Acara itu diselenggarakan oleh Himpunan Keluarga Mangkunegaran (HKMN).

Citra Wonogiri. Sebagaimana kata presiden AS ke-15 James Buchanan (1791-1868), "I like the noise of democracy" , saya menyukai gaduhnya demokrasi, saya juga tertarik mengikuti kegaduhan dan "perang budaya" di Wonogiri ini.

Berbeda dibanding era Begug yang kemratu-ratu, yang dirinya suka memposisikan diri sebagai raja kecil, antara lain yang oleh para pegawai pemkab sering didaulat dengan sebutan feodal seperti Gusti Kanjeng, nampaknya Danar ingin menghapus citra-citra feodal itu. Seperti dalam spanduk-spanduk kampanyenya, ia ingin mencitrakan diri sebagai bupati yang merakyat.

Danar Rahmanto, sebagaimana tindakan biasa penguasa baru, memang senantiasa berusaha menghapus bayang-bayang pemerintahan sebelumnya. Aksi "de-begug-isasi" itu sedang ia gencarkan mulai saat ini. Termasuk yang segera nampak : mengubah tampilan bangunan di depan halaman kabupaten Wonogiri.

Bagi saya, penghapusan dukungan Pemkab Wonogiri bagi penyelenggaraan peristiwa budaya, dalam satu sisi, merupakan kabar baik. Inilah saatnya, walau mungkin harus tertatih terlebih dahulu, kekuatan sipil yang harus tampil ke depan sebagai motor untuk gerakan yang mereka antepi sendiri.

Lupakan pemerintah. Jangan tergantung melulu kepada pemerintah. Sebab seperti kata David Cameron, PM Inggris saat ini, "pemerintah itu makin lemah dan makin lemah, dan rakyat dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi, akan semakin menguat dan menguat posisinya."

Kirab 1000 Komputer. Teknologi komunikasi dan informasi. Itulah salah satu obsesi yang selalu mengusik saya, ketika bupati lama setiap kali menyelenggarakan acara-acara budaya yang menjadi klangenan dirinya.

Sebagai warga Wonogiri yang ingin ikut urun rembug, saya telah menulis surat pembaca ("itu yang bisa saya lakukan"), terkait bobot kecenderungan dirinya yang berorientasi ke masa lalu dan tabrakan dengan pemikiran pentingnya orientasi warga Wonogiri dalam melangkah menuju masa depan.


Kirab 1000 Komputer
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Kamis, 13 April 2006

Setelah wayang, tahun ini UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai maha karya dunia. Saya tidak tahu apa dengan alasan itu Pemkab Wonogiri (12/2) menyelenggakan ritus jamasan pusaka dan diikuti kirab 1.000 keris. Pelaku kirab adalah siswa SLTP/SLTA Wonogiri yang hanya berbaris pasif, tanpa seni happening, dengan masing-masing membawa sebilah keris.

Kirab itu berkesan hanya sebagai acara tempelan. Jauh dari praksis memberikan penyadaran atau edukasi. Karena sama sekali tidak ditunjang dengan kegiatan ceramah, diskusi, pemutaran film, lomba karya tulis sampai workshop pembuatan keris sebagai karya seni dan warisan budaya.

Intinya, merupakan kegiatan edukatif menjauhkan generasi muda Wonogiri dari pemikiran gugon tuhon seputar keris yang kental berselimutkan aura mistis, misterius, yang disebarluaskan dari mulut ke mulut atau sinetron. Ingat kasus penipuan menyangkut jual-beli keris yang dianggap sakti dan bertuah yang menimpa seorang cerdik pandai asal Semarang.

Alangkah idealnya bila selain kirab 1.000 keris juga disertai kirab 1.000 buku favorit pelajar, sampai kirab 1000 komputer di Wonogiri. Generasi muda Wonogiri harus pula diajak untuk berorientasi ke masa depan.

Kalau kirab keris hanya sebagai tempelan acara ritus jamasan pusaka yang disukai generasi-generasi tua, apalagi kental bernuansa aura mistis, generasi muda Wonogiri tidak memperoleh manfaat apa-apa.

Terutama lagi bila dikaitkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Wonogiri. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 telah menyajikan data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal.

Ngelus-elus dan menjamas keris saja jelas tidak menyumbang perubahan apa-apa !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Anda sebagai Warga Wonogiri, bagaimana pendapat Anda ?
Setelah gebrakan seperti ini, apa saja harapan Anda terhadap Mas Bupati kita itu terkait program untuk meningkatkan SDM Warga Wonogiri, yang selalu ia katakan ingin meningkatkan martabat warga Wonogiri ?


Wonogiri, 19 Desember 2010

2 comments:

Harjono "Kingkong" said...

Betul Mas Bambang sekarang ini Indonesia salah satunya sedang dijajah budayanya.
Wong Indonesia (Jawa) sing maune santun, kebak unggah ungguh, ngajeni mring liyane, saiki dadi panasten, beringas siunge metu kabeh.
Lama kelamaan tidak lagi sebagai negara tetapi mengecil jadi propinsi atau malahan kampung yang namanya Indonesia, lenyap jatidirinya, raine tetep Indonesia bungkuse wong manca he he he

mujtahid said...

Menurut saya APBD Wonogiri memang termasuk rendah karena kita termasuk "tertinggal" bila dibandingkan dg daerah lain, untuk itu memang harus pandai2 memilih program yg tepat sasaran dan menjadi prioritas.
Kalau semua jadi prioritas .. budaya, ekonomi, pendidikan, etc .. saya yakin semua tidak akan teraih, seperti contoh besarnya adalah negara kita .. maunya banyak tapi tidak ada yg dicapai maksimal. Kita bisa belajar pada Cina, Singapore, Thailand, Taiwan, dll yg fokus pada 1 bidang dan berhasil .. baru ke prioritas yg lain