Tuesday, 28 December 2010

Sepakbola Kita, Korupsi Kita, Catatan Dari Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Pengantar. Eforia terkait naik daunnya timnas Indonesia di Piala AFF 2010, mengharu-biru Indonesia. Tetapi ketika dipukul tuan rumah Malaysia 3-0 di final leg pertama, 26 Desember 2010, keraguan kembali menghantui psike publik bola tanah air. Nasib akan ditentukan pada pertandingan leg kedua, 29 Desember 2010, di stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Pada hari Kamis 16 Desember 2010, 18.15, rasa skeptis saya selama ini terhadap persepakbolaan Indonesia telah diudarakan di Radio BBC Siaran Indonesia. Intinya, seperti yang saya tulis dalam artikel berikut yang pernah pula dimuat di harian Solopos, 10 Juni 2010.


“Sepak bola,” kata Nelson Mandela, “merupakan aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia.”

Merujuk negerinya dengan sejarah kelam tergencet politik apartheid yang panjang, kemudian bangkit dalam rekonsiliasi, dan di bulan Juni 2010 ini menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, ucapan Bapak Afrika Selatan itu terasa membiaskan kebenaran. Indonesia berpuluh tahun lewat telah pula merasakannya.

Itu terjadi pada tahun 1938 ketika ucapan Mandela tersebut punya makna bagi kita. Karena tim Asia pertama yang terjun dalam Piala Dunia 1938 di Perancis itu, walau masih di bawah bendera pemerintahan Hindia Belanda, adalah tim Indonesia yang terdiri beragam etnis bangsa. R.N. Bayuaji dalam bukunya Tionghoa Surabaya Dalam Sepakbola (2010), menyebutkan dalam tim tersebut terdapat pemain orang Belanda, Tionghoa dan Bumiputera.

Kemudian keikutsertaan Indonesia oleh novelis asal Uruguay, Eduardo Galeano, dalam Football in Sun and Shadow (2003) yang menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, telah dicatat sebagai satu di antara tiga kaitan antara Indonesia dan Piala Dunia.

Kaitan pertama, peristiwa di Piala Dunia Perancis tahun 1938 itu pula. Dalam pertandingan pertama di Reims Indonesia ditekuk calon finalis Hungaria 6-0, menjadikan momen itu sebagai pengalaman pertama negara kita ini mencicipi terjun sebagai finalis Piala Dunia.

Selebihnya, dua kaitan sisanya oleh Eduardo Galeano Indonesia hanya menjadi latar belakang peristiwa besar dunia terkait masa kenaikan rezim tiran Soeharto dan Orde Barunya (Piala Dunia 1966 di Inggris) dan sekaligus masa keruntuhannya (Piala Dunia 1998 (Perancis).

Dan hari ini, setelah 72 tahun Piala Dunia 1938 di Perancis itu, mengapa sepakbola Indonesia tidak pernah mampu lagi berbicara di tingkat dunia ? Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkap bahwa posisi sepak bola Indonesia dalam percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi, pinggiran.

Dalam artikel "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini.

Seolah memberi garis bawah realitas itu, seorang Emil Salim baru-baru ini menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia ibarat anak-anak yang masih berusia 2-3 tahun.

Teater sepak bola kita, seperti halnya sendi-sendi kehidupan bangsa ini di pelbagai sektor lainnya, makin diperunyam oleh budaya korupsi yang menggurita. “Indonesia adalah Brazilnya Asia. Pesepakbola Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tidak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang. Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara.”

Itulah kenangan Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, di Asiaweek (5/6/1998) menjelang Piala Dunia 1998.

Image hosted by Photobucket.com

Untuk Indonesia Raya ! Stadion Kallang Singapura, 16 Januari 2005, menjadi saksi militansi suporter Indonesia dalam mendukung timnas di Final Piala Tiger 2005. Saya dan Mayor Haristanto (kaos putih) berbaur dengan mahasiswa, juga tenaga kerja asal Indonesia, berbagai suku dan asal keturunan, merasakan gairah persatuan menjadi satu bangsa, bangsa Indonesia. Sayang, timnas kita dewasa ini sangat jarang berjaya di ajang kompetisi internasional. Orientasi prestasinya cenderung hanya untuk konsumsi dalam negeri, memicu maraknya fanatisme kedaerahan, yang justru mengancam tererosinya rasa kebanggaan dan nasionalisme sebagai satu bangsa.

Image hosted by Photobucket.com

Tetap Optimis, Walau Kalah. Begitu Mayor dan saya memasuki tribun berisi suporter Indonesia di Stadion Kalang Singapura, segera merasakan “kimia” yang berubah. Spanduk “Bangkit Indonesia !” yang kami bawa, memicu seluruh tribun tergerak bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya merinding dan meneteskan air mata. Chan Yi Shen, wartawan olahraga koran utama Singapura, The Straits Times, tiba-tiba menggamit saya. Kami mengobrol di lorong gang menuju tribun. Esoknya, koran The Straits Times (17/1/2005) memuat pendapat saya, seperti terpajang di atas.

Tetapi di mana kini Indonesia dalam percaturan sepakbola Asia Tenggara ? Tidak membangggakan. Apalagi di Asia, dan tingkat dunia. Sepakbola kita hanya mampu memiliki masa lalu. Dalam artikel itu tersaji gambar pemain Indonesia Rocky Putiray, dengan teks berbunyi : “Pemain Indonesia seperti Peri Shandria yang sedang melompat itu memiliki bakat, tetapi pertandingan seringkali sudah diatur skornya.”

Peter Velappan kemudian melanjutkan bahwa asal-muasal keterpurukan prestasi Indonesia itu bersumber akibat “organisasi persepakbolaannya yang amburadul dan tidak mampu membersihkan borok korupsi yang ada,” sebagaimana keterpurukan prestasi sepak bola di Asia Tenggara selama berpuluh-puluh tahun terakhir ini pula.

Dalam belitan meruyaknya budaya korupsi itu maka sepakbola Indonesia merupakan teater sepakbola penuh rekayasa. Peraturan begitu mudah berganti-ganti, tetapi pada ujungnya hanyalah jeblognya prestasi demi prestasi timnas kita di pertandingan internasional.

Penghamburan uang negara dengan mengirim mereka berlatih ke luar negeri, misalnya ke Belanda, Argentina dan kini ke Uruguay, tidak lain hanyalah tipuan kehumasan untuk memoles citra. Trik semacam ini sudah berlangsung sejak jaman Primavera di era 1980-an dan semuanya berbuah kegagalan.

Kegairahan bangsa Indonesia terhadap sepak bola telah dibajak oleh elite dalam tubuh PSSI untuk kepentingan bisnis rejim mereka sendiri. Bos PSSI, Nurdin Halid pernah bilang dengan bangga bahwa kompetisi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, baik dalam jumlah klub mau pun luas wilayahnya. Tetapi potensi besar itu selalu saja menjadi mandul ketika timnas kita atau klub-klub kita bertanding melawan tim di kawasan Asia Tenggara dan Asia.

Solusi di masa depan untuk mengatasi jeblognya prestasi sepakbola kita mungkin justru berada di tangan lembaga yang kini sedang mengalami gonjang-ganjing : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kita harapkan lembaga ini, setelah pelbagai badai yang menerpanya lewat, akan membuatnya sosoknya semakin kokoh dan berwibawa. Setelah pelbagai kasus besar yang urgen bisa selesai, kita harapkan KPK akan hadir membongkar gurita-gurita korupsi dalam tubuh persepakbolaan nasional kita.

Sebagai suporter, saya imbau agar organisasi-organisasi suporter sepakbola Indonesia ikut bangkit sebagai kekuatan positif, dengan mulai mengasah diri untuk menjadi sosok Suporter 2.0.

Dapat diibaratkan bahwa Suporter 1.0. mewakili era suporter yang kreatif dan atraktif seperti digelorakan antara lain oleh Pasoepati di tahun 2000, maka Suporter 2.0. harus memanfaatkan kedahsyatan media-media sosial di Internet sebagai sarana aktualisasi kiprah positif mereka.

Termasuk pula menjadi anjing penjaga, watch dog, yang secara kritis mencatat dan melaporkan jalannya roda manajemen klub yang ia dukung untuk diangkat sebagai wacana publik demi terselenggaranya proses check and balances dalam meraih kebaikan dan kesuksesan bersama.

Selamat menikmati Piala Dunia 2010. Sekaligus mari kita banyak belajar dari negerinya Nelson Mandela ini !


Wonogiri, 28/12/2010

No comments: