Wednesday, 5 January 2011

MUCHLIS DAN MUKHSIN

Oleh: Nur Rochman Achmad (Maman, 1981)



Tulisan ini saya persembahkan kepada para guru saya tercinta yang telah memberi pencerahan dalam hidup saya utamanya Bp. Ust. Muhammad Zuhri yang pada bulan Desember 2009 ini genap berumur 70 tahun. Salam bakti saya, Nur Rochman Achmad.

Akal dan logika adalah suatu karunia yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk melengkapi dan membantu jasad ini dalam mengarungi kehidupan di alam semesta. Akal dan logika itu tumbuh seiring dengan pertumbuhan manusia mulai dari bayi hingga dewasa dan kemudian menjadi orang tua. Logika digunakan oleh manusia untuk membantu akal dalam menganalisis setiap kejadian dan kemudian merangkaikan setiap peristiwa tersebut serta menarik benang merahnya sehingga didapatkan satu kesimpulan yang mana kesimpulan ini akan digunakan oleh akal untuk membuat spekulasi-spekulasi tentang suatu kejadian di masa yang akan datang. Secara ilmiah bisa dikatakan sebagai membuat suatu rencana untuk mempengaruhi kehidupan kita dimasa depan.

Akal dan logika hanya bisa memahami sesuatu yang direspon oleh panca indra kita. Lalu membuat analisis dan perhitungan tentang apa yang akan terjadi. Semakin kuat dominasi akal dan logikanya maka manusia akan semakin yakin dengan spekulasinya, dan apabila ternyata apa yang terjadi meleset dari perhitungannya, maka muncullah kebimbangan lalu mulailah akal dan logika ini mencari pembenaran atau menyalahkan keadaan yang dianggap menggagalkan rencananya. Ketika semua yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh akal dan logikanya maka kejadian itu dianggapnya tidak logis dan tidak adil, lalu manusia berusaha menuntut keadilan dan tidak mau menerima kenyataan yang ada.

Keadilan memang sesuatu yang relatif, ketika manusia terlalu mengedepankan akal dan logikanya, sebab keadilan selalu dipandang dalam perspektif kepentingan dirinya atau kelompoknya. Ketika kepentingan dirinya atau kelompok yang seide dengannya tidak menjadi bagian dari suatu peristiwa itu maka dikatakan telah terjadi ketidak adilan dan harus dituntut. Akal mengatakan kebenaran harus ditegakkan.

Permasalahannya bahwa  logika – akal kita sering tidak sama dengan logika akal Tuhan. Ketika Tuhan memberikan Qodhonya terhadap seseorang, Dia juga mempertimbangkan takdir dan Qodhonya makhluk lain bukan hanya manusia saja, karena Allah itu Tuhan semesta alam yang akan memberi keadilan dan rahmat pada seluruh isi alam semesta. Jadi kita tidak perlu kaget ketika kita berdoa menginginkan suatu keadilan malah yang terjadi adalah menambah kesengsaraan kita, karena kita lupa bahwa keadilan Tuhan adalah keadilan semesta alam yang juga mempertimbangkan dosa-dosa masa lalu kita baik kepada manusia atau bahkan makhluk lain yang bukan manusia yang pernah kita sakiti. Ini yang dikatakan sebagai hari perhitungan. Hari perhitungan ini selalu diberikan kepada manusia secara periodik dari waktu ke waktu dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan hakekat dirinya. Jadi apa yang terjadi sekarang adalah buah masa lalu kita dari hasil interaksi kita dengan sesama manusia, binatang, tumbuhan atau bahkan alam semesta.

Sering kita tidak mengerti ketika kita berdoa memohon kesuksesan malah kita ditimpa banyak masalah. Akal dan logika manusia yang belum di set frekuensinya sehingga selaras dengan frekuensi logika Tuhan akan bingung, kecewa dan frustasi, namun sebaliknya ketika frekuensi sudah selaras barulah kita menyadari dan faham bahwa masalah dan kegagalan adalah ibu kandung dari kesuksesan, karena definisi kesuksesan itu adalah seberapa banyak kita bisa mengatasi kegagalan dan masalah. Perlu juga kita pahami bahwa munculnya istilah sukses itu karena ada istilah gagal. Begitu juga ketika Tuhan hendak menjadikan seseorang menjadi sabar, maka Tuhan akan mendatangkan banyak peristiwa yang menjengkelkan dan menyakitkan hati yang kalau ditelaah dengan akal logika kita, semuanya tidak masuk akal.

Logika manusia ada dalam batas dunia yang kasat mata, sementara logika Tuhan ada pada alam ruhiah manusia atau bisa diistilahkan logika spiritual. Manusia mempunyai dua sisi semesta, yaitu semesta milik (alam dunia) yang ditempati oleh sang Jasad manusia dan semesta diri (alam ruh) yang ditempati oleh ruh kita. Kedua-duanya mempunyai Sunatullah. Namun alam ruh ini adalam alam yang gelap gulita, tidak ada penerangan cahaya seperti cahaya matahari menerangi alam dunia atau alamnya jasad. Satu-satunya cahaya yang mampu menerangi adalah cahaya Tuhan yang baru diberikan ketika kita memang mencari dan memintanya kepada Tuhan. Oleh karena itu Sunatullah di alam ruh sangat sulit dipahami oleh akal dan logika manusia padahal itu sangat nyata dan bisa kita rasakan meskipun sulit dibuktikan secara rasional dan kunci kehidupan kita. Contoh mudahnya kita sangat sulit membuktikan adanya kentut seseorang meskipun baunya jelas kita rasakan.

Manusia yang akal dan logikanya telah sampai kepada akal dan logika Tuhan maka dialah orang yang bisa mencapai taraf ikhlas atau Muchlis. Karena dia tahu bahwa setiap kejadian adalah kehendak Tuhan baik itu kejadian yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, seperti kata penyair Ebiet G Ade: Anugerah dan bencana adalah Kehendaknya, kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar, bahawa Dia adalah segalanya. Ketika manusia sadar betul akan peran yang diberikan oleh Allah saat ini dan menerimanya dengan lapang hati tanpa ada perasaan “seharusnya  kan begini (seperti di dalam fikirannya) tapi kenapa yang terjadi seperti itu” atau “dia merasa seharusnya saya lebih berhak memerankan posisi (peran) itu daripada dia, tapi mengapa dia yang mendapat posisi atau peran itu. Ketika akal manusia terbebas dari keinginan untuk memaksa Tuhan memberikan setiap kejadian ini seperti apa yang mereka inginkan maka barulah manusia bisa  lapang hati menerima segala kejadian yang terjadi baik itu yang menyenangkan atau yang menyakitkan, dan pada saat itulah manusia bisa mencapai taraf ikhlas, dan dari situ barulah muncul rasa bersyukur dengan nikmat yang dia dapatkan saat ini.

Hakekat keikhlasan memang akan menimbulkan rasa syukur dan puncak syukur adalah tidak pernah mencela hari ini, zaman ini, kondisi saat ini, maka Allah akan memberikan dia sifat latif (lembut), penyantun, mulia dan dermawan.
  
Hadits Qudsi : "Jangan Mengutuk zaman karena Akulah zaman".

Puncak dari syukur adalah memiliki karomatullah yaitu kemuliaan Tuhan yang dipinjamkan kepada orang yang bersyukur.

Bagaimana melatih diri sehingga menjadi manusia yang ikhlas. Bp. Muhammad Zuhri, seorang guru tasawuf mangatakan bahwa Ikhlas dengan diri sendiri latihannya adalah sholat, karena Sholat adalah sarana untuk mengkalibrasi dan menselaraskan logika kita dengan logika Tuhan atau logika spiritual.

Sholat memberikan perenungan yang dalam dan kesadaran akan adanya kekuatan yang sangat menentukan dalam setiap kejadian didunia.  Kekuatan diluar akal dan kemauan manusia. Kekuatan semesta alam dari sang pencipta. Kekuatan yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun karena kekuatan itu adalah kekuatan Tuhan. Ketika kesadaran itu muncul maka manusia hanya bisa pasrah dan berdoa agar diberi kejadian yang menyenangkan atau diberi kelapangan hati ketika mendapat ujian dengan kejadian yang menyakitkan.

Allah memberikan isyarat bahwa sholat adalah sarana mendidik manusia untuk bisa ikhlas dan menerima apa yang terjadi dan menjalaninya dengan rasa pasrah tanpa kejengkelan, tanpa kedongkolan dan sakit hati, tanpa harus menyalahkan keadaan. Yang ada padanya hanyalah rasa syukur. Orang seperti inilah orang yang terhindar dari berbagai penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit mental. Inilah yang disebut pertolongan Tuhan. Dia akan selalu menatap masa depan dengan optimis dan tidak putus asa terhadap rahmat Tuhan.

Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan manusia untuk meminta pertolongan kepadaNya dengan sholat  seperti dalam firmanNya:


 Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (2:153)

Pada ayat tadi disebut juga sabar sebagai sarana mendapat pertolongan Allah. Sabar adalah kelanjutan dari ikhlas yaitu setelah kita menerima dengan lapang hati terhadap segala kejadian yang menimpa kita, maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan mental untuk mampu menunda kenikmatan meskipun akal dan logika kita menentang.

·         Ujung dari sabar adalah syafaat yang mampu menolong orang lain. Doa nya terhadap orang yang dipedulikan bisa terkabul.

Mendidik sabar adalah dengan berpuasa. Di sini kita dilatih untuk menahan diri terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah sah menjadi milik kita dan langsung bisa dinikmati, namun tidak boleh kita gunakan sampai waktu yang sudah ditentukan. Kita dilatih untuk menunda kenikmatan meskipun itu kepunyaan kita sendiri. Orang yang telah menjiwai puasa akan tertempa dalam hidupnya dan selalu beroriantasi kenikmatan jangka panjang dengan menunda kenikmatan yang sifatnya hanya sesaat.  Orang seperti ini akan mampu merasakan makna dibalik setiap peristiwa. Dia akan mampu merasakan bahwa setiap kesulitan dan masalah yang ditimpakan adalah mengandung makna kesuksesan yang akan dia nikmati dalam jangka yang panjang, oleh karena itu dia akan tekun dan sabar menghadapi tantangan itu hingga akhirnya sukses dengan mengalahkan tantangan tersebut.

Kebangkitan dan kesadaran biasa akan muncul ketika manusia mengalami momen-momen transendental yang membuat manusia mengalami lompatan dalam spiritual misalnya: 
  • Fitnah; 
  • Sesuatu yang dicintai atau sandaran hidup kita dirampas oleh Allah misalnya: Jabatan, Anak, Harta yang kita miliki, dsb.
Di dalam peristiwa itu manusia akan mengalami goncangan jiwa yang dahsyat, dan hanya orang yang telah memahami makna ikhlas dan sabar yang akan bisa terus mendalami dan memahami makna dibalik peristiwa-peristiwa tersebut. Itulah yang dikatakan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat.

Namun demikian masih ada cita-cita seorang muslim yang paling tinggi yaitu menjadi Muhsin (ihsan).  Mukhsin lebih tinggi dari ikhlas karena mencapai tingkat dimana orang mampu berkoban padahal pada saat yang sama akal kita menentangnya. Nabi Ibrahim mampu mengorbankan Nabi Ismail anak semata wayangnya meskipun logika dan akalnya menentang, demikian juga Abu Bakar Assiddiq memberikan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam dalam menegakkan keadilan dan kemakmuran di dunia. Ini memang terlihat  tidak masuk akal namun terbukti Abu bakar tidak lantas menjadi miskin dan hidup terlantar. Inilah Pengorbanan, Inilah Muhsin, inilah makna Haji dan inilah Logika Tuhan. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi yaitu orang-orang mukhsin yang tidak terjebak pada kesibukan demi kepentingan sendiri dan keluarganya, tetapi hidupnya senantiasa memberikan yang terbaik untuk kepentingan orang banyak. Karya-karyanya akan menjadi karya yang monumental yang kemanfaatannya dirasakan oleh alam semesta.

Haji merupakan sarana penggarapan terakhir bagi manusia ketika rukun Islam yang empat telah disempurnakan dan membekas dalam kehidupan sehari-hari. Disana jutaan manusia dari berbagai belahan dunia yang berbeda suku dan ras berkumpul mengelilingi satu titik yaitu ka’bah yang merupakan simbol di dunia ini hanya ada satu kekuatan yang mengatur alam semesta yaitu kekuatan Tuhan. Di dalam haji semua ritual merupakan simbol-simbol kehidupan yang harus dipecahkan sehingga kita mampu mencapai derajat manusia yang sesungguhnya, yaitu manusia yang jasad dan jiwa spiritualnya seimbang dan selaras sehingga mampu menjadi duta Allah di muka bumi.

Sebagai contohnya, thawaf dimana manusia mengelilingi ka’bah berulang-ulang menggambarkan bahwa kehidupan ini adalah sesuatu yang berulang-ulang atau rutinitas mulai dari pergantian malam-kemudian pagi-siang-sore lalu kembali ke malam lagi. Demikian aktifitas manusia seperi makan kemudian lapar lagi, minum kemudian haus lagi, tidur kemudian bangun lagi, dan seterusnya, termasuk dalam ritual ibadah misalnya sholat dan puasa juga kita ulang-ulang dalam kehidupan kita. Namun demikian aktifitas yang menghasilkan kesalahan dimasa lalu tidak boleh kita ulang maka manusia dengan Sya’i-nya harus tetap berjalan seolah membuat garis lurus kedepan. Makna sesungguhnya dari peristiwa ini adalah bahwa didalam mencari dan mendapatkan tata nilai kehidupan dijagat raya ini tidak ada yang berulang atau boleh dikatakan bahwa didalam aktifitas rutinitas yang berulang-ulang akan menghasilkan suatu nilai kehidupan yang tidak pernah berulang. Manusia memang melakukan suatu aktifitas rutin dan berulang-ulang dari hari ke hari, namun tanpa sadar dengan aktifitas itu manusia tumbuh dan berubah dari bayi menjadi menjadi dewasa, bahkan kemudian menjadi orang tua. Ini adalah proses pertumbuhan nilai yang tidak mungkin berulang. Tidak ada manusia setelah dewasa kemudian mengecil menjadi bayi lagi. Di dalam ritualpun demikian juga, misalnya nilai dan pemahaman sholat dan puasa yang dilakukan anak-anak akan berbeda dengan orang tua meskipun dalam prosesnya sholat dan puasa tersebut diulang-ulang dari kecil hingga usia tua.

Proses pencarian nilai ini akan berhenti dan berakhir disuatu tempat yang disebut padang ma’rifat atau Wukuf dipadang kehidupan Arafah. Disinilah manusia akan melakukan perenungan akhir hingga menemukan jati diri dan mengenali Tuhannya serta siap menerima amar (perintah) untuk melaksanakan perannya sebagai wakil atau representative Tuhan di muka bumi. Setiap manusia akan diberi peran yang berbeda sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang dipikulkan Tuhan kepadanya. Manajerial Tuhan telah mengatur alam semesta sedemikian rapi sehingga setiap manusia pasti memperoleh peran sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya.  Manusia tanpa sadar telah diarahkan dan digiring oleh Tuhan melalui minat, bakat, dan kemampuan yang ditanamkan di dalam dirinya. Lebih dari itu setiap manusia dilahirkan di dalam lingkungan hidup yang berbeda-beda, sehingga setiap orang otomatis mendapatkan bidang garapan yang berbeda-beda di dalam alam semesta ini.  

Salah satu yang paling berat dari sisi sepiritual manusia adalah rasa memiliki yang sangat tinggi terhadap keduniawian, oleh karena itu didalam jumroh manusia akan melempari syetan-syetan yang ternyata adalah simbol-simbol rasa ego yang menjadi berhala yang selalu dibawa oleh manusia. Ego inilah yang akan menjegal hati kita untuk melakukan pengorbanan sosial. Batu-batu kecil dilemparkan sebagai simbol materi atau harta yang kita buang dan lemparkan untuk kepentingan sosial atau kepentingan orang banyak atau bahkan kepentingan alam semesta. Di sini manusia disadarkan bahwa harta milik kita bukanlah harta yang kita tumpuk-tumpuk dan menjadi harta warisan, namun milik kita yang sebenarnya sebagai bekal akhirat adalah harta yang kita sumbangkan untuk orang atau makhluk lain tanpa memandang ras, suku, agama bahkan untuk kelestarian binatang dan juga tumbuh-mbuhan atau alam semesta. Manusia yang lulus di dalam hajinya maka ia akan menjadi manusia sosial yang lintas ras, lintas suku bahkan lintas agama, yaitu manusia yang siap mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi yang memberi rahmat bagi semesta alam.

Haji akan menghasilkan suatu konsep bahwa setinggi tinggi iman adalah manusia yang mampu mementingkan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya.

---

4 comments:

Setyo said...

Shubanallah, Mas Maman itu bareng kersa nulis, haluah puanjange rek...!
Tapi aku seneng tulisannya penuh makna dan pesan moral/nasehat yg baik.

Makasih ya Mas Maman, sampeyan kelingan aku gak...? Setyo Ciptono dulu kita pernal sekelas.

mujtahid said...

Bagus sekali untuk bahan perenungan.
Kadangkala logika kita berontak ketika melihat kondisi sekeliling kita .. kenapa ini begitu .. kenapa itu begini .. tapi kalau kita merenung -seperti tulisan Maman diatas- bahwa segala sesuatu kita tempatkan dalam kontek keseimbangan yg diciptakan Allah sebagai perwujudan sifatnya yg "rahmad bagi sekalian alam" maka kita akan ikhlas menerima segala sesuatu yg terjadi pada kita maupun keadaan disekiling kita. Jadi pertanyaan2 spt "kenapa ya Allah menciptakan orang sejahat itu .. jadi pejabat yg menentukan lagi" akan bisa diterima logika dalam konsep keseimbangan alam

Ichwana said...

terima kasih atas infonya..

baca juga : jurnal ekonomi andalas

Supriyanto-Jambe said...

Ya memang berat untuk menjadi muslim yang mukmin lalu muhsin, Kalao jaman sahabat dulu (saat hijrah) mereka rela meninggalkan apapun demi keyakinan thd agama yg dianut, sedang sebagian manusia saat ini malah sebaliknya, meninggalkan aturan agama demi nafsu dunia (harta,kedudukan dll).