Friday, 21 January 2011

Revolusi Locavore : Anda Tertarik Ikut Serta ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Locavore.
Sudahkah Anda kenal istilah eksotis ini ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabe.

Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabe itu dari penjual mi ayam Mas Jan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabe seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.

"Satu kilogram cabe rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya. Beberapa hari lalu, koran lokal mewartakan : harga cabe rawit satu klethusan senilai 300 rupiah.

Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena masih dihantui harga cabe itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya menemukan istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.

Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.Kunci keberhasilan gagasan mulia ini harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.

Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.

Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.

Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak/diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.

Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita ["halo, alumnus A-1981 yang kini menjadi guru, ada pesan untuk Anda..").

Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.

Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabe mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya itu, yang juga bisa menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.

Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.

Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabe, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembaca di pelbagai surat kabar.

Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.

Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.

Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.

Di masa krisis moneter itu cabe harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."

Revolusi kita bersama. Apakah Anda sebagai warga Wonogiri, di mana pun Anda berada, kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang inspiratif ini ? Hanya Anda yang bisa memastikannya.

Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabe, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua.

Mari kita mulai beraksi.
Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, dan kita semua.

Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.


Wonogiri, 19-21/1/2011

PS : Saat ini saya memelihara 6-7 tanaman cabe. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.

bh

6 comments:

Nasih said...

Ditangan seniman, kehidupan bercocok tanam pun jadi indah ... tapi rupanya indah pun belum cukup dalam hidup ini ...
Hasrat untuk menapaki hidup yang tidak berlepotan tanah menjadi dambaan anak-anak muda di mana-mana. Kalau bisa hidup di kota dan tidak bertani, mengapa pula harus tetap tinggal di desa dan bertani ?

mujtahid said...

Iya Sih .. orang yg "mampu berpikir" hanya pingin bertani untuk klangenan, maunya kerja ditempat yg kinclong .. sementara yang terpaksa bertani tidak "mampu berpikir" bagaimana menjadi petani yg sukses

mujtahid said...

Setuju mas Bambang .. jadi ingat hidup di Wonogiri th 70 s/d 80-an .. kita miskin tapi bisa bertahan hidup tanpa kekurangan gizi krn orang tua mencukupinya dari yg ada di sekitar rumah .. uwi, suweg, sayur2an, buah2an .. selalu berlimpah untuk "nambal" perut yg kekurangan nasi kadang campur tiwul

Bambang Haryanto said...

Matur nuwun, Mas Nasih dan Mas Mujtahid. Mas Nasih yang dosen pertanian, tentu lebih canggih dalam mencari solusi atas masalah ini. Terkait pendapat Anda ini, penulis artikel itu, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor bilang : "Apa mau dikata, bila sistem pendidikan kita condong menjuruskan semua anak muda untuk bercita-cita menjadi dokter dan insinyur, tetapi tidak ada yang pengin menjadi petani ?"

Jawab saya,begitulah realitasnya. Karena sepengetahuan saya memang menjadi petani itu tidak kinclong, tidak pula bergengsi. Karena petani itu "wong ndeso." Kilas balik ke masa lalu, saat di SMPN 1, ketika bisa bersekolah dengan teman-teman yang berasal dari luar Wonogiri Kota, sebutan atau olokan sebagai "ndeso" dan "tani" yang muncul dalam obrolan sungguh membuat ciut nyali teman-teman "ndeso" saya itu. Ketika bersekolah di Yogya,saya yang wong Wonogiri kena hukum karma :-(, gantian ketiban pulung untuk merasakan tembakan orang kota sebagai "wong ndeso" itu pula. Begitulah, mungkin sindrom semacam ini secara diam-diam, diakui atau tidak diakui,plus atau minus, kini selalu kita bawa dalam hidup kita bermasyarakat. Sudah menjadi cerita klasik, dari bakul bakso sampai pegawai, seringkali wong Wonogiri akan mengaku sebagai wong Solo bila terlibat dalam percakapan saat perkenalan.

Dulu, saya juga begitu. Syukurlah, ketika bersekolah di Jakarta sampai saat menulis blog sekarang-sekarang ini, identitas sebagai wong Wonogiri selalu saya cantumkan.Apa adanya.

Maaf, obrolan di atas sebagai ilustrasi saja. Dengan harapan, moga-moga pilihan terbatas yang diberikan Mas Nasih di akhir komentarnya, kini bisa menjadi lebih cair dan lebih kaya alternatif. Maksud saya, betapa pun Anda tinggal di kota besar,sambil merujuk gerakan locavore tadi dan bahkan juga gerakan urban agriculture, kita semua sekarang ini berpeluang untuk terus bisa bertani, termasuk juga di rumah Anda sendiri.

Saya yakin, pengalaman hidup masa kecil Mas Mujtahid dan pengalaman kita-kita semua itu, bisa dibangkitkan, digelorakan lagi di kota-kota besar tempat warga Wonogiri berkarya dan mengabdi.

Baik untuk aktivitas klangenan sekali pun. Syukur-syukur bisa untuk konsumsi sendiri sehari-hari,bahkan bertani untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga kita.

Monggo. Salam locavore !

Supriyanto-Jambe said...

Saya baru beberapa hari lalu, menabur biji cabe merah keriting dalam 5 atau 6 pot.

Nasih said...

bagi yang tertarik bertani saya menulis di kesuburan tanah